Blogger Widgets

07 April, 2014

Untukmu Calon Istriku

Bismillahirrahmanirrahim
Apa kabarmu hari ini wahai wanita pujaanku?
Semoga setiap tingkah dan langkahmu selalu ada dalam ridho dan lindungan Yang Maha Kuasa.
Kapanpun kau membaca surat ini, percayalah, aku sedang memikirkanmu saat ini. Dan ya, aku merindukanmu. Bahkan kadang aku sangat merindukanmu.

Wahai wanita yang selalu ada dalam pikiranku, hal yang paling aku takutkan di dunia ini adalah kesepaian dan kesendirian. Maka mendekatlah padaku. Temani aku. Persiapkan dirimu untuk hidup bersamaku, menemaniku mengarungi luatan kehidupan. Seberapapun ganasnya badai yang akan kita hadapi nanti, tetaplah bersamaku. Kita akan menghadapinya bersama-sama. Aku berjanji padamu. Aku tak akan melepaskanmu dan tak akan meninggalkanmu. Aku tau ini tak akan mudah. Semoga Yang Maha Kuasa selalu menjadi pelindung kita.
Wahai dambaan hatiku, kau mungkin tau bahwa aku menginginkan wanita yang cantik yang selalu bisa menyejukkan mataku. Tapi kau tidak perlu berdandan yang berlebihan agar terlihat cantik di mata orang lain yang memandangmu. Cukup kau bisa terlihat cantik di mataku. Tersenyumlah. Itu sudah lebih dari cukup untukku.
Kau juga mungkin tau, bahwa aku menginginkan wanita yang kaya dan dari keluarga terhormat. Tapi jika kau bukan dari golongan itu, tidak masalah, karena aku juga bukan dari keluarga yang kaya dan terhormat. Selama kau tetap bersamaku, menemaniku, kita akan membangun istana kita sendiri. Dengan tangan kita sendiri. Batu bata demi batu bata. Mulai dari pondasi. Biarkan tangan kita melepuh karena ini. Aku tak peduli jika telapak tanganmu tak halus lagi. Aku akan tetap mencintaimu. Selalu mencintaimu.
Wahai calon ibu dari anak-anakku, kau mungkin tau aku akan sangat merasa beruntung jika kau adalah wanita yang cerdas dan berpendidikan tinggi. Tapi jika itu membuatmu merasa lebih tinggi derajatnya daripada aku, sunguh, aku tidak membutuhkan itu. Kau tidak perlu menjadi wanita yang bisa membuat nuklir, pengacara hebat, ataupun menemukan obat dari penyakit yang belum pernah ada di bumi ini. Cukup kau tau tentang kewajiban-kewajiban dan hak-hakmu sebagai seorang istri dan seorang ibu. Dan selama kau selalu berusaha menjadi istri yang berbakti dan ibu yang penuh kasih sayang, bisa mendidik anak-anak kita nantinya menjadi generasi yang beriman kepada Sang Pencipta dan bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya, aku akan sangat bersyukur untuk itu. Aku pun bukan orang yang cerdas dan berpendidikan tinggi, dan aku siap belajar bersamamu. Belajar tentang banyak hal tentang apa saja dari kehidupan ini.
Wahai calon istriku, mungkin nanti kau ingin bekerja di luar rumah untuk membantu kehidupan keluarga kita. Aku tidak akan melarangmu melakukan itu. Tapi alangkah lebih baiknya jika kau tetap berada di rumah, mengurus pekerjaanmu sebagai istri dan merawat serta mendidik anak-anak kita sebagai ibu. Kau mungkin tak akan menyukai pekerjaan seperti itu, karena aku tau itu adalah pekerjaan yang sangat melelahkan, dan bayarannya pun mungkin tidak sesuai dengan apa yang kau harapkan. Tapi sekedar engkau tau, itu adalah pekerjaan tersulit dan yang sangat mulia. Tak ada satupun sekolah di dunia ini yang mengajarkan hal itu. Dan bayarannya adalah cinta. Sesuatu yang lebih berharga dari sekedar lembaran rupiah.
Aku sadar pekerjaanku saat ini bukanlah pekerjaan yang bagus. Hasilnya pun mungkin tak sebesar yang kau harapkan, jadi jangan pernah meminta lebih dari yang mampu aku berikan kepadamu. Kau mungkin akan menganggapku lelaki yang egois, tapi percayalah aku sangat ingin membuatmu merasa nyaman dengan apa yang kita miliki. Aku juga ingin bisa memanjakanmu dengan sedikit kemewahan dunia. Semoga kau tau harta yang berkah dan halal lebih penting dari itu semua. Aku berdoa kepada Tuhan semoga aku selalu dalam bimbingan-NYA untuk mencari rezeki dari hal yang diridhoi-NYA dan bisa memberi makan engkau dan anak-anak kita dengan makanan yang baik dan halal.
Wahai pujaan hatiku, jika nanti aku marah dan menumpahkan semua kekesalanku padamu, jangan pernah sekalipun kau membantahku. Diamlah. Menangislah jika kau ingin menagis. Mohon maaflah kepadaku, meskipun kau tau bahwa itu semua adalah kesalahanku. Semoga dengan begitu kau mampu meredam amarahku. Tentu kau boleh membela dirimu, nanti, saat kemarahan benar-benar hilang dari hatiku. Tak perlu mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Karena kebersamaan kita jauh lebih penting daripada hal itu.
Aku harap engkau tau, walaupun aku sudah menjadi seorang suami, dan ayah dari anak-anak kita, tapi aku juga masih menjadi anak dari orang tuaku. Dan jika nantinya aku lebih mementingkan mereka daripada memenuhi kebutuhanmu, bersabarlah. Semoga Tuhan menjadikanmu termasuk orang-orang yang sabar.
Wahai bidadariku, jika nanti aku lalai dalam melakukan kewajibanku sebagai seorang suami dan atau seorang ayah, terlebih lagi sebagai seorang hamba dari Sang Pencipta, ingatkanlah aku. Tapi tetaplah jaga kelembutan tutur katamu, tetaplah engkau tersenyum kepadaku. Peluklah aku, lalu ingatkan aku.
Aku sadar, setiap dari kita pernah memiliki cerita bersama orang-orang istimewa di masa lalu. Tapi jangan pernah membawa mereka naik di tempat tidur kita. Karena tempat tidur kita hanya berisi impian, harapan, dan juga cita-cita masa depan kita.
Engkau mungkin akan menganggapku lelaki yang egois. Tapi percayakah kau, bidadariku?  Kau tercipta sebagai makhluk yang istimewa, bahkan mungkin yang paling istimewa. Dan kau tak perlu membuktikan kepada siapapun, terutama kepada diriku, keistimewaanmu di luar kodratmu sebagai wanita.
Sebagai penutup dari suratku ini, aku ingin mengingatkanmu tentang kabar gembira untukmu yang pernah aku dengar dari orang yang lebih memahami ini dibandingkan aku.
Tuhan memberikan kebebasan kepada kaummu untuk memasuki syurga dari pintu manapun yang kau kehendaki. Cukup kau kerjakan shalat, membayar zakat, puasa, dan berbakti kepada suamimu.
Sebagai laki-laki, untuk alasan tertentu, aku iri akan keistimewaanmu.
Semoga kau tidak lupa akan keistimewaanmu.
Tetaplah berdoa untukku.
Semoga Yang Maha Kuasa semakin mendekatkan kita dan selalu melindungi kita dari hal-hal yang tidak disukai-NYA.
Aku merindukanmu, bidadariku.

Tidak ada komentar:

Entri Populer

Pengikut

pencarian