Blogger Widgets

11 Februari, 2014

JANGAN LEPAS JILBABMU..!! JANGAN DEKATI NERAKA HANYA KARENA INGIN DIBILANG GAUL DI DUNIA.!!!




Dengan mengucap Bismillaahirrahmaanirraahiim, saya gerakan pena di tangan saya untuk menulis artikel religius, kali ini dakwah saya (lewat tulisan) setentang jilbab (hijab) sesuai judul artikel ini tersebut di atas, semoga tulisan ini bermanfaat, sekaligus mendapat tempat di hati saudari-saudariku (kaum muslimah), para wanita (anak-anakku, kemenakan-kemenakanku, cucu-cucuku) seiman, seaqidah. Semoga !
Kenapa ketika akan menulis, saya mengucap Bismillah ? Saya ingin pekerjaan saya (menulis) artikel ini mendapat barokah (bermanfaat), sesuai Hadist dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Semua pekerjaan yang berfaedah yang tidak dimulai dengan Bismillaahirrahmaanirrahiim putus (hilang berkahnya).” (HR. Rahawi)
Saudarku, dalam kitab suci Al-Qur’an dan Hadist Nabi SAW terdapat perintah yang menerangkan tentang pentingnya seorang wanita muslimah mengenakan jilbab agar terhindar dari segala macam bentuk fitnah.
  • Misalnya dalam surat Al Ahzab :
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min : hendaknya menutupi badan mereka dengan jilbabnya atas (seluruh tubuh) mereka. Demikian itu (supaya) lebih dekat (mudah) dikenal, (bahwa mereka adalah wanita-wanita yang baik pekertinya), lalu mereka tidak akan diganggu (oleh orang-orang munafik). Dan Allah senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.” (QS. Al-Ahzab : 59)
Firman Allah SWT tersebut memerintahkan kepada Nabi SAW untuk mengajak istri-istri, anak-anak gadis dan wanita-wanita mukminin lainnya untuk memakai jilbab. Kalau kita renungkan arti dari ayat-ayat itu maka akan kita dapatkan bahwasanya perintah memakai jilbab tidak dibedakan antara keluarga Nabi SAW maupun keluarga orang-orang mukmin lainnya. Karena jilbab merupakan lambang kesucian diri seorang wanita.
· Potongan ayat : (yang artinya) “Demikian itu (supaya) lebih dekat (mudah) dikenal (bahwa mereka adalah wanita-wanita yang baik budi pekertinya) lalu mereka tidak akan diganggu (oleh orang-orang munafik)” adalah jelas menjelaskan kaepada kita bahwa para wanita yang memakai jilbab dapat terjaga kehormatan dirinya. Kemudian potongan ayat : (yang artinya) “Lalu mereka tidak akan diganggu.” Ayat ini menerangkan bahwasanya orang-orang munafik, fasik, dan orang-orang fajir tidak akan mampu untuk mengganggu (menyakiti) mereka lantaran jiwa dan hati (gadis yang menggunakan jilbab) telah terlindungi.
· Perhatikan surat An Nur, Allah SWT berfirman :
“Dan katakanlah kepada kaum mu’min wanita, agar mereka menahan pandangan mereka dan mengekang nafsu birahi mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan (memamerkan kecantikan) mereka, kecuali sebagian yang kelihatan. Dan hendaknya mereka memakai kerudung sampai menutupi dada mereka. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka (memamerkan kecantikan mereka) kecuali untuk suami mereka atau anak mereka sendiri atau anak-anak dari anak-anak saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita yang lain atau budak-budak yang dimiliki oleh mereka atau orang-orang yang menyertai mereka yang tidak mempunyai lagi hajat keperluan pada wanita lagi atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Janganlah mereka berjalan sambil menggoyangkan kakinya supaya dapat diketahui orang sebagian perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, agar kamu mendapat kebahagiaan.” (QS. An-Nur : 31)
Saudaraku, dengan memperhatikan surat An-Nur ayat 31 tersebut, dapatlah kita mengetahui bahwa perintah yang terkandung di dalamnya itu ditujukan kepada wanita-wanita mukminat dan itu menunjukkan bahwa menggunakan hijab (jilbab) merupakan tanda orang beriman. Lalu Allah SWT mengaitkan antara perintah tersebut dengan perintah untuk menahan pandangan dan memelihara kemaluan, disusul dengan perintah untuk memakai jilbab. Hal itu menunjukkan bahwa jilbab dapat membantu dan mengantarkan seseorang untuk sampai pada keutamaan-keutamaan ini :
· Seperti pada akhir ayat disebutkan (yang artinya) : “Agar kamu mendapat kebahagiaan.” Ungkapan ini menekankan bahwa kebiasaan memakai jilbab merupakan jalan menuju kesuksesan (kebahagiaan dan keberuntungan)
· Sementara dalam surat Al-Ahzab ayat 33, berfirman Allah SWT :
“Dan (hendaklah) kamu tetap di rumah-rumahmu (melainkan jika ada keperluan, jika demikian bolehlah kamu keluar dari rumah). Dan janganlah kamu memperlihatkan dirimu (seperti) orang-orang jahiliyah yang dulu. Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menghilangkan dosa-dosa dan kamu (hal ahlul-bait), dan Allah (hendak) membersihkan kamu dengan sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab : 33)
Saudaraku, sidang pembaca yang budiman. Jangan lupa bahwa ambisi musuh-musuh Islam dalam mewujudkan (menjadikan) para wanita muslimah sebagai sarana perusak dan penghancur di tengah-tengah lingkungan orang-orang muslim itu sendiri. Langkah pertama mereka adalah mengajak dengan berbagai cara (methode) agar kaum wanita (muslimah) gemar melakukan tabarruj. Apa itu tabarruj? Tabarruj adalah memperlihatkan perhiasan atau mempertontonkan wajah dan kecantikan yang dimilikinya serta menampakkan sesuatu yang dapat menimbulkan fitnah (seperti aurat tubuhnya) dihadapan laki-laki, yang bukan muhrimnya. Dan dalam surat Al-Ahzab ini Allah SWT menyinggung tentang larangan (bertabarruj) – adalah lawan dari perintah berjilbab (berhijab). Lewat tulisan religius ini penulis mengingatkan kepada saudari-saudariku (kaum muslimah) untuk lebih (wajib) extra berhati-hati lagi di dalam mengantisipasi fitnah kerji ini tentu saja begitu pun bagi kaum prianya.
· Rasulullah SAW pun pernah mengingatkan kita untuk menghindari diri dari bencana semacam ini, dengan sabdanya :
“Berhati-hatilah kalian terhadap dunia, berhati-hatilah kalian terhadap wanita. Karena sesungguhnya fitnah (bencana) pertama yang dialami oleh Bani Israil bersumber dari wanita.” (HR. Muslim)
Ket : Hadist ini terdapat dalam kitab Adz-Dzikir Wa Ad-Du’a Wa At-Taubat Wa al-Istigfar, diriwayatkan oleh Imam Muslim pada bab Aktsaru Ahli al-Jannah al-Fuqara’ wa Aktsaru Ahli an-Nar an-Nisa (Mayoritas penghuni Syurga adalah kaum fakir dan mayoritas penghuni neraka adalah kaum wanita)
  • Di dalam Hadist yang lain, Rasulullah SAW bersabda :
“Aku tidak meninggalkan cobaan apapun sesudahku yang lebih mendatangkan mudharat (bahaya) bagi kaum laki-laki selain wanita.” (HR. Bukhari)
Saudaraku, gencarnya serangan-serangan mereka (yang memusuhi Islam) yang datang dari luar dan masuk ke dalam dengan segala macam cara dan dengan berbagai macam cara pula mereka berusaha untuk menyebarluaskan prbuatan hina, mendorong kaum wanita agar melakukan perbuatan tercela minimal melepaskan jilbabnya. Membanjirinya took-toko pakaian yang mengundang birahi dengan berbagai model dan corak. Sehingga terjadilah fitnah dimana-mana, mereka (kaum wanita kita) mulai memperlihatkan semua keindahan tubuhnya, melalui televisi, satelit dan parabola, baik itu berupa tayangan sinetron, video, vcd, Hp genggam yang sudah dapat merekam gambar secara otomatis atau majalah atau media lainnya berlomba-lomba, aurat tubuh wanita dipertontonkan. Naudzubillah ! Summa naudzubillah.
· Saudaraku, kembali kepada surat Al-Ahzab ayat 33 (yang artinya) : “Dan (hendaklah) kamu tetap di rumah-rumah mu (melainkan jika ada keperluan, jika demikian bolehlah kamu keluar dari rumah). Dan janganlah kamu memperlihatkan dirimua (seperti) orang-orang jahiliyah yang dulu.”
Seperti dikatakan di atas, Allah SWT melarang bertabarruj lawan dari berjilbab. Karena perbuatan tabarruj dianggap sebagai perbuatan orang-orang jahiliyah dengan maksud untuk memberi dorongan kepada kaum muslimin untuk menjauhinya. Dalam sebuah kaidah fikih disebutkan : An Nahyu ‘ani asy-Syay’i amrun bi ahiddihi (larangan terhadap sesuatu, berarti perintah mengerjakan sesuatu yang menjadi lawannya). Artinya bahwa ayat tersebut (surat Al Ahzab : 33) merupakan ajakan untuk menggunakan (memakai) hijab (jilbab), kemudian ayat ini di akhiri dengan Firman Nya yang berbunyi (artinya) : “Dan Allah (hendak) membersihkan kamu dengan sebersih-bersihnya.”
Ini artinya menunjukkan bahwasanya hijab atau berjilbab (begitu pula dengan perintah-perintah Allah SWT lainnya) merupakan jalan menuju kesucian serta sarana untuk menjaga kehormatan diri seseorang. Kalau menggunakan jilbab dapat melahirkan nilai-nilai positif maka sebaliknya perbuatan tabarruj dapat menyebabkan kerusakan moral (kerusakan akhlak) seorang wanita (gadis) yang melakukan tabarruj, ia dapat merusak dirinya sendiri, begitu pula merusak akhlak laki-laki yang ada disekitarnya. Hal ini merupakan tanda-tanda dari sedikitnya rasa malu yang dimiliki oleh seorang wanita, berkurangnya semangat beragama dan matinya sensifitas seseorang.
· Saudaraku, siksaan (azab) bagi wanita-wanita pelaku perbuatan tabarruj, seperti yang diterangkan Nabi SAW berikut ini :
· Bersabda Rasulullah SAW :
“Ada dua jenis penghuni neraka yang belum pernah aku melihat sebelumnya. Kaum lelaki yang memegangi cemeti yang berbentuk seperti ekor-ekor sapi lalu digunakan untuk memukul manusia lain, wanita-wanita yang berpakaian tetapi mereka terlihat seperti telanjang, mereka berlenggang lenggok, dan kepala-kepala mereka seperti punuk seekor unta. Mereka tidak dapat masuk ke dalam syurga dan tidak dapat mencium baunya (aroma syurga). Sesungguhnya bau syurga harumnya dapat dirasakan dari jarak ini dan ini (jarak yang sangat jauh).” (HR. Muslim)
Ket : Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab : Al-Libas wa az-Zinah, pada bab ‘An-Nisa al-Kasiyat al Ma’ilat al-Mumilat (wanita yang berpakaian seperti telanjang, berlenggang-lenggok, kepala mereka seperti punuk seekor unta).
Sebuah Hadist yang sama, juga diriwayakan oleh Imam Muslim tetapi dengan sedikit perbedaan redaksi setentang siksaan wanita-wanita yang melakukan tabarruj.
· Dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah SAW : “Dua golongan penduduk Neraka yang tidak sudi diperlihatkan kepadamu : Kaum zalim yang buas yang memegang senjata ditangannya yang selalu digerakkannya untuk membunuhi manusia. Kaum wanita yang berpakaian setengah telanjang yang memiringkan diri kiri kanan (untuk menggiurkan nafsu laki-laki) sedangkan rambut di kepalanya ditinggikan bagaikan pundak di punggung unta. Mereka tidak masuk syurga bahkan tidak dapat mencium harumnya bau syurga yang sangat jauh jaraknya daripada mereka.” (HR. Muslim)
· Dan Hadist berikut ini : “Nabi SAW bersabda : Wahai Asma, sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah datang waktu haid tidak boleh memperlihatkan tubuhnya, melainkan ini dan itu sambil menunjuk muka dan dua telapak tangannya.” (Dikutip dari buku : Dosa-Dosa Besar dan Ayat-Ayat Allah Yang Dilupakan Umat Islam. Oleh : Hasnul Ahmad. Penerbit : Yayasan Dakwah Islamiyah Amar Ma’ruf Nahi Munkar)
Saudaraku, kaum muslimah yang berbahagia. Beralih dakwah saya (lewat tulisan) ini kepada setentang bagaimana kehidupan para sahabat wanita di zaman Rasulullah SAW bagaimana kesungguhan mereka memakai kerudung (berjilbab).
· Dari Aisyah ra berkata : “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki beberapa kelebihan. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak pernah melihat wanita lain yang lebih baik daripada wanita kaum Anshar dalam hal keimanannya terhadap kitabullah dan apa-apa yang diturunkan-Nya. Ketika turun surat An-Nur, pada potongan ayat (yang artinya) : Dan hendaknya mereka memakai kerudung sampai menutupi dada mereka. Maka saat itu pula para suami membacakan kepada anak-anak perempuan, saudara-saudara perempuan dan kerabat-kerabatnya setelah dibacakan, maka tidak ada satu wanita pun kecuali mereka memakai kerudung (jilbab) lalu mereka melipatkannya di atas kepala mereka. Hal itu dilakukan karena kepercayaan dan keimanan mereka terhadap apa yang telah diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Kemudian tatkala mereka berada di belakang Nabi SAW, mereka terlihat sudah mengenakan jilbab. Seolah-olah di atas kepala mereka ada seekor burung ghirban.” (Hadist ini disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir, kemudian disandarkan kepada : Ibnu Abu Hatim)
Ket : Hadist ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, dalam kitab Al-Libas pada bab Firman Allah yang berbunyi : Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung di dada mereka.
· Dan Hadist yang bersumber dari Urwah dan Aisyah ra, ia berkata : “Semoga Allah SWT mengasihi wanita-wanita Muhajirin generasi pertama ketika Allah menurunkan ayat yang berbunyi, (artinya) : Dan hendaknya mereka memakai kerudung sampai menutupi dada mereka. (An-Nur : 31), mereka dengan segera menutup kepalanya dengan kain yang dililitkan.” (HR. Bukhari)
Ikhtilath ialah melakukan pergaulan (berkumpul) wanita-wanita di tengah-tengah kelompok laki-laki (tanpa risih) tanpa ada batasan atau ikatan apapun, telah hilang batasan-batasan syariat yang mengatur agar dua makhluk berlainan jenis tidak berada dalam suatu tempat secara terbuka. Sikap tabarruj dan ikhtilath ini sengaja senantiasa didorong dan diupayakan oleh musuh-musuh Islam (orang-orang yang tidak senang) terhadap Islam dan oleh orang-orang yang mendukungnya.
Saudaraku sesama muslim, wabil khusus kaum muslimah. Sekali lagi penulis mengingatkan, jangan sekali-kali kita lengah, artinya kita selalu siap dengan Istiqomah mengantisipasi sewaktu-waktu datangnya fitnah keji mereka.
Untuk lebih menegaskan penjelasan di atas, perhatikan komentar seorang Ulama besar yang tertulis di dalam kitab Ath-Thuruq al-Hukah ditohqiq. Oleh : DR. Mohammad Jamil Ghazi, setentang dampak buruk yang ditimbulkan akibat perbuatan ikhtilath.
· Berkata Imam Ibnu Qoyyim : ”Tidak diragukan lagi, bahwa ikhtilath seorang wanita ditengah-tengah kaum laki-laki adalah sumber dari segala perbuatan buruk dan tercela. Hal ini merupakan salah satu penyebab terbesar turunnya ‘azab Allah kepada suatu bangsa. Sebagaimana juga hal tersebut akan berdampak buruk bagi orang lain. Sedangkan ikhtilath yang dilakukan oleh seorang laki-laki ditengah-tengah kaum wanita hanya akan menimbulkan perzinahan dan perbuatan keji lainnya.”
· Tetapi perhatikan bagaimana perilaku (kehidupan) terpuji, karena perasaan (hati) yang sudah terlandasi dengan manisnya iman para Sahabat Wanita berikut ini :
· Diberitakan oleh Hamzah bin Abu Al-Anshari dari ayahnya. Disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW keluar dari pintu Masjid. Di luar pintu Masjid itu beliau mendapatkan beberapa laki-laki sedang bercengkerama dengan beberapa wanita. Melihat hal tersebut beliau berkata kepada kaum wanita itu : “Perlambatlah jalan kalian ! Sesungguhnya kalian tidak berhak berjalan di tengah-tengah kaum laki-laki. Langkah terbaik yang kalian tempuh adalah dengan menyamping ke sisi jalan.” Kemudian para wanita itu merapat ke tembok hingga baju yang mereka kenakan tersangkut, karena rapatnya tubuh mereka dengan tembok.” (HR. Abu Daud)
· Dan Hadist di dalam kitab Shahih Al-Bukhari, bahwa Ummul Mukminin Aisyah ra pernah melakukan thawaf dengan dikelilingi oleh beberapa orang laki-laki. Lalu Nabi SAW bersabda : “Janganlah engkau bercampur dengan mereka.” (HR. Bukhari)
Maksud dari Hadist ini adalah, bahwa yang seharusnya dilakukan oleh kaum wanita adalah meisahkan diri dari tempat dimana kaum laki-laki berkumpul.
· Kemudian Hadist berikut ini : Diberitakan dari Ummul Mukminin Aisyah ra, ia berkata : “Ketika Rasulullah SAW selesai mengerjakan shalat Subuh, para wanita kembali ke rumah masing-masing seraya menutupi tubuh mereka dengan kain penutup agar tidak tampak cahaya tubuh.” (HR. Bukhari)
Sekarang sudah jelas bahwa ikhtilath itu dilarang ditempat-tempat ibadah ataupun ditempat-tempat lain. Untuk menjaga kesucian diri kita yang mungkin saja dapat terpengaruh oleh lingkungan, di dalam kitab Al-Mar’ah Muta’al Al-Jabri disebutkan bahwa seorang ulama yang bijak pernah berkata : “Kesucian diri merupakan hijab yang dapat menjaga seseorang dari perbuatan ikhtilath.”
Sementara Syekh Ibrahim Izzat berkata : “Seorang wanita apabila terbiasa keluar dari rumahnya menuju lingkungan bercampur baur (antara laki-laki dan perempuan), maka sesungguhnya perasaan suci dalam dirinya telah hancur.”
Saudariku, kaum muslimah yang berbahagia. Saya berharap dari beberapa Hadist tersebut di atas kita mendapat pelajaran. Itu artinya kalian harus cepat-cepat hijrah (dari melakukan pergaulan (berkumpul) dengan laki-laki tanpa batasan), bercampur, berbaur di tengah-tengah kelompok laki-laki tanpa risih, padahal mereka bukan muhrim hijrah kepada perilaku, kehidupan terpuji wanita-wanita solehah terdahulu, para sahabat wanita-wanita di zaman Rasulullah yang keimanannya terhadap Kitabullah tidak diragukan.
Sampai disini saya sudahi tulisan (artikel) religius ini, saya berharap setelah membaca artikel ini, tidak ada lagi saudariku (kaum muslimah) yang tidak mempergunakan (memakai) hijab (jilbab) yaitu kerudung yang menutupi kepala sampai ke dada yaitu seolah-olah di atas kepala mereka ada seekor burung ghirban. Terima kasih atas segala perhatian, wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***
(Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari bukku : Wahai Wanita Merekalah Teladanmu. Oleh : Frof. DR. Thal’at Mohammad Afifi)

12 Agustus, 2013

Al Birruni, Ilmuwan Muslim Pendiri Tiga Ilmu

”Dia adalah salah satu ilmuwan terbesar dalam seluruh sejarah manusia.” Begitulah AI Sabra menjuluki Al-Biruni — ilmuwan Muslim serba bisa dari abad ke-10 M. Bapak Sejarah Sains Barat, George Sarton pun begitu mengagumi kiprah dan pencapaian Al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. ”Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” cetus Sarton.
Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mendapuknya sebagai seorang ilmuwan yang agung. Sejatinya, Al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal. Sejarah mencatat, Al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.

Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, Al-Biruni pun dinobatkan sebagai ‘Bapak Indologi’ — studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’. Di era keemasan Islam, Al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi.
Selain itu, Al-Biruni juga dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, Al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains. Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samanid itu merupakan salah satu pelopor merote saintifik eksperimental.
Dialah ilmuwan yang bertanggung jawab untuk memperkenalkan metode eksperimental dalam ilmu mekanik. Al-Biruni juga tercatat sebagai seorang perintis psikologi eksperimental. Dia juga merupakan saintis pertama yang mengelaborasi eksperimen yang berhubungan dengan fenomena astronomi. Sumbangan yang dicurahkannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan sungguh tak ternilai.
Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi, kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran, serta filsafat. Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu. Dia juga mengamalkan ilmu yang dikuasainya dengan menjadi seorang guru yang sangat dikagumi para muridnya.
Ilmuwan kondang itu bernama lengkap Abu Rayhan Muhammed Ibnu Ahmad Al-Biruni. Dia terlahir menjelang terbit fajar pada 4 September 973 M di kota Kath – sekarang adalah kota Khiva – di sekitar wilayah aliran Sungai Oxus, Khwarizm (Uzbekistan). Sejarah masa kecilnya tak terlalu banyak diketahui. Dalam biografinya, Al-Biruni mengaku sama sekali tak mengenal ayahnya, hanya sedikit mengenal tentang kakeknya.
Selain menguasai beragam ilmu pengetahuan, Al-Biruni juga fasih sederet bahasa seperti Arab, Turki, Persia, Sansekerta, Yahudi, dan Suriah. Al-Biruni muda menimba ilmu matematika dan Astronomi dari Abu Nasir Mansur. Menginjak usia yang ke-20 tahun, Al-Biruni telah menulis beberapa karya di bidang sains. Dia juga kerap bertukar pikiran dan pengalaman dengan Ibnu Sina – ilmuwan besar Muslim lainnya yang begitu berpengaruh di Eropa.
Al-Biruni tumbuh dewasa dalam situasi politik yang kurang menentu. Ketika berusia 20 tahun, Dinasti Khwarizmi digulingkan oleh Emir Ma’mun Ibnu Muhammad, dari Gurganj. Saat itu, Al-Biruni meminta perlindungan dan mengungsi di Istana Sultan Nuh Ibnu Mansur. Pada tahun 998 M, Sultan dan Al-Biruni pergi ke Gurgan di Laut Kaspia. Dia tinggal di wilayah itu selama beberapa tahun.
Selama tinggal di Gurgan, Al-Biruni telah menyelesaikan salah satu karyanya yakni menulis buku berjudul The Chronology of Ancient Nations. Sekitar 11 tahun kemudian, Al-Biruni kembali ke Khwarizmi. Sekembalinya dari Gurgan dia menduduki jabatan yang terhormat sebagai penasehat sekaligus pejabat istana bagi penggati Emir Ma’mun. Pada tahun 1017 M, situasi politik kembali bergolak menyusul kematian anak kedua Emir Ma’mun akibat pemberontakan.
Khwarizmi pun diinvasi oleh Mahmud Ghazna pada tahun 1017 M. Mahmud lalu membawa para pejabat Istana Khwarizmi untuk memperkuat kerjaannya yang bermarkas di Ghazna, Afghanistan. AL-Biruni merupakan salah seorang ilmuwan dan pejabat istana yang ikut diboyong. Selain itu, ilmuwan lainnya yang dibawa Mahmud ke Ghazna adalah matematikus, Ibnu Iraq, dan seorang dokter, Ibnu Khammar.
Untuk meningkatkan prestise istana yang dipimpinnya, Mahmud sengaja menarik para sarjana dan ilmuwan ke Istana Ghazna. Mahmud pun melakukan beragam cara untuk mendatangkan para ilmuwan ke wilayah kekuasaannya. Ibnu Sina juga sempat menerima undangan bernada ancaman dari Mahmud agar datang dan mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya di istana Ghazna.
Meski Mahmud terkesan memaksa, namun Al-Biruni menikmati keberadaannya di Ghazna. Di istana itu, dia dihormati dan dengan leluasa bisa mengembangkan pengetahuan yang dikuasainya. Salah satu tugas Al-Biruni adalah menjadi astrolog isatana bagi Mahmud dan penggantinya.
Pada tahun 1017 M hingga 1030 M, Al-Biruni mendapat kesempatan untuk melancong ke India. Selama 13 tahun, sang ilmuwan Muslim itu mengkaji tentang seluk beluk India hingga melahirkan apa yang disebut indologi atau studi tentang India. Di negeri Hindustan itu, Al-Biruni mengumpulkan beragam bahan bagi penelitian monumental yang dilakukannya. Dia mengorek dan menghimpun sejarah, kebiasaan, keyakian atau kepecayaan yang dianut masyarakat di sub-benua India.
Selama hidupnya, dia juga menghasilkan karya besar dalam bidang astronomi lewat Masudic Canon yang didedikasikan kepada putera Mahmud bernama Ma’sud. Atas karyanya itu, Ma’sud menghadiahkan seekor gajah yang bermuatan penuh dengan perak. Namun, Al-Biruni mengembalikan hadiah yang diterimanya itu ke kas negara.
Sebagai bentuk penghargaan, Ma’sud juga menjamin Al-Biruni dengan uang pensiun yang bisa membuatnya tenang beristirahat serta terus mengembangkan ilmu pengetahuan. Dia juga berhasil menulis buku astrologi berjudul The Elements of Astrology. Selain itu, sang ilmuwan itu pun menulis sederet karya dalam bidang kedokteran, geografi, serta fisika. Al-Biruni wafat di usia 75 tahun tepatnya pada 13 Desember 1048 M di kota Ghazna. Untuk tetap mengenang jasanya, para astronom mengabadikan nama Al-Biruni di kawah bulan.
Sumbangan Sang Ilmuwan
* Astronomi
”Dia telah menulis risalah tentang astrolabe serta memformulasi tabel astronomi untuk Sultan Ma’sud,”papar Will Durant tentang kontribusi Al-Biruni dalam bidang astronomi. Selain itu, Al-Biruni juga telah berjasa menuliskan risalah tentang planisphere dan armillary sphere. Al-Biruni juga menegaskan bahwa bumi itu itu berbentuk bulat.
Al-Biruni tercatat sebagai astronom yang melakukan percobaan yang berhubungan dengan penomena astronomi. Dia menduga bahwa Galaksi Milky Way (Bima Sakti) sebagai kupulan sejumlah bintang. Pada 1031 M, dia merampungkan ensiklopedia astronomi yang sangat panjang berjudul Kitab Al-Qanun Al Mas’udi.
* Astrologi
Dia merupakan ilmuwan yang pertama kali membedakan istilah astronomi dengan astrologi. Hal itu dilakukannya pada abad ke-11 M. Dia juga menghasilkan beberapa karya yang penting dalam bidang astrologi.
*Ilmu Bumi
Al-Biruni juga menghasilkan sejumlah sumbangan bagi pengembangan Ilmu Bumi. Atas perannya itulah dia dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’. Dia juga memberi kontribusi signifikan dalam kartografi, geografi, geologi, serta mineralogi.
*Kartografi
Kartografi adalah ilmu tentang membuat peta atau globe. Pada usia 22 tahun, Al-Biruni telah menulis karya penting dalam kartografi, yakni sebuah studi tentang proyeksi pembuatan peta.
* Geodesi dan Geografi
Pada usia 17 tahun, Al-Biruni sudah mampu menghitung garis lintang Kath Khawarzmi dengan menggunakan ketinggian matahari. ”Kontribusi penting dalam geodesi dan geografi telah dibuat disumbangkan Al-Biruni. Dia telah memperkenalkan teknik mengukur bumi dan jaraknya menggunakan triangulasi,” papar John J O’Connor dan Edmund F Robertson dalam MacTutor History of Mathematics.
* Geologi
Al-Biruni juga telah menghasilkan karya dalam bidang geologi. Salah satunya, dia menulis tentang geologi India.
* Mineralogi
Dalam kitabnya berjudul Kitab al-Jawahir atau Book of Precious Stones, Al-Biruni menjelaskan beragam mineral. Dia mengklasifikasi setiap mineral berdasarkan warna, bau, kekerasan, kepadatan, serta beratnya.
* Metode Sains
Al-Biruni juga berperan dalam memperkenalkan metode saintifik dalam setiap bidang yang dipelajarinya. Salah satu contohnya, dalam Kitab al-Jamahir dia tergolong ilmuwan yang sangat eksperimental.
* Optik
Dalam bidang optik, Al-Biruni termasuk ilmuwan yang pertama bersama Ibnu Al-Haitham yang mengkaji dan mempelajari ilmu optik. Dialah yang pertama menemukan bahwa kecepatan cahaya lebih cepat dari kecepatan suara.
* Antropologi
Dalam ilmu sosial, Biruni didapuk sebagai antropolog pertama di dunia. Ia menulis secara detail studi komparatif terkait antropologi manusia, agama, dan budaya di Timur Tengah, Mediterania, serta Asia Selatan. Dia dipuji sejumlah ilmuwan karena telah mengembangkan antropologi Islam. Dia juga mengembangkan metodelogi yang canggih dalam studi antropologi.
* Psikologi Eksperimental
Al Biruni tercatat sebagai pelopor psikologi eksperimental lewat penemuan konsep reaksi waktu.
* Sejarah
Pada usia 27 tahun, dia menulis buku sejarah yang diberi judul Chronology. Sayangnya buku itu kini telah hilang. Dalam kitab yang ditulisnya Kitab fi Tahqiq ma li’l-Hind atau Penelitian tentang India, Al-Biruni telah membedakan antara menode saintifik dengan metode historis.
* Indologi
Dia adalah ilmuwan pertama yang mengkaji secara khusus tentang India hingga melahirkan indologi atau studi tentang India.
*Matematika
Dia memberikan sumbangan yang signifikan bagi pengembangan matematika, khususnya dalam bidang teori dan praktik aritmatika, bilangan irasional, teori rasio, geometri dan lainnya. (mongreita)

Entri Populer

Pengikut

pencarian